Purna Paskibraka Indonesia

Kota Administrasi Jakarta Pusat

Sejarah singkat Hari Ibu

Gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya yang pada 28 Oktober 1928 digelorakan dalam Kongres Pemuda Indonesia, menggugah semangat para pimpinan perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri. Pada saat itu sebagian besar perkumpulan masih merupakan bagian dari organisasi pemuda pejuang pergerakan bangsa.

Selanjutnya, atas prakarsa para perempuan pejuang pergerakan kemerdekaan pada 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali di Yogyakarta. Salah satu keputusannya adalah dibentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI).

Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

Pada 1929, perikatan Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII). Pada 1935 diadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut di samping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada 1938, Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa 22 Desember sebagai Hari Ibu. Selanjutnya, dikukuhkan oleh pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu, 22 Desember merupakan Hari Nasional dan bukan hari libur. Pada 1946, Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia disingkat Kowani, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman. Peristiwa besar yang terjadi pada 22 Desember tersebut kemudian dijadikan tonggak sejarah bagi Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia. Hari Ibu oleh Bangsa Indonesia diperingati tidak hanya untuk menghargai jasa-jasa perempuan sebagai seorang ibu, tetapi juga jasa perempuan secara menyeluruh, baik sebagai ibu dan isteri maupun sebagai warga negara, warga masyarakat dan sebagai abdi Tuhan Yang Maha Esa, serta sebagai pejuang dalam merebut, menegakkan dan mengisi kemerdekaan dengan pembangunan nasional.

Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan seluruh rakyat Indonesia, terutama generasi muda, akan makna Hari Ibu sebagai hari kebangkitan dan persatuan serta kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan perjuangan bangsa. Untuk itu perlu diwarisi api semangat juang guna senantiasa mempertebal tekad untuk melanjutkan perjuangan nasional menuju terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya, yang menggambarkan: Kasih sayang kodrati antara Ibu dan Anak; Kekuatan, kesucian antara Ibu dan Pengorbanan Anak;

Kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara

Semboyan pada lambang Hari Ibu “Merdeka Melaksanakan Dharma” mengandung arti bahwa tercapainya persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan antara kaum perempuan dan kaum laki-laki merupakan kemitra sejajaran yang perlu diwujudkan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian Bangsa Indonesia.

Hari Ibu, 22 Desember 2011

Filed under: SEJARAH

Sejarah Bhineka Tunggal Ika

Kita sebagai bangsa Indonesia tentu sering melihat dan sangat mengenal gambar di atas ini. Namun apakah kita benar-benar mengenal gambar tersebut? Jika ditanya itu gambar apa, tentu kita bisa menjawabnya. Namun apakah kita bisa menjawab dengan benar apa nama gambar itu? Siapa perancang gambar itu? Bisakah anda menjelaskan secara detail lambang-lambang yang terkandung di dalamnya? Marilah kita mulai satu per satu.

Sekilas

Gambar di atas itu merupakan lambang negara Indonesia. Lambang negara berupa seekor Burung Garuda berwarna emas yang berkalungkan perisai yang di dalamnya bergambar simbol-simbol Pancasila, dan mencengkeram seutas pita putih yang bertuliskan “BHINNEKA TUNGGAL IKA”. Sesuai dengan desainnya, lambang tersebut bernama resmi Garuda Pancasila. Garuda merupakan nama burung itu sendiri, sedangkan Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang disimbolkan dalam gambar-gambar di dalam perisai yang dikalungkan itu. Nama resmi Garuda Pancasila yang tercantum dalam Pasal 36A, UUD 1945.

Sejarah

Sultan Hamid II

Perancangan lambang negara dimulai pada Desember 1949, beberapa hari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh Belanda. Kemudian pada tanggal 10 Januari 1950, dibentuklah Panitia Lencana Negara yang bertugas menyeleksi usulan lambang negara. Dari berbagai usul lambang negara yang diajukan ke panitia tersebut, rancangan karya Sultan Hamid II lah yang diterima. Sultan Hamid II (1913–1978) yang bernama lengkap Syarif Abdul Hamid Alkadrie merupakan sultan dari Kesultanan Pontianak, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Kalimantan Barat dan juga Menteri Negara Zonder Portofolio pada era Republik Indonesia Serikat.

Setelah disetujui, rancangan itupun disempurnakan sedikit demi sedikit atas usul Presiden Soekarno dan masukan berbagai organisasi lainnya, dan akhirnya pada bulan Maret 1950, jadilah lambang negara seperti yang kita kenal sekarang. Rancangan final lambang negara itupun akhirnya secara resmi diperkenalkan ke masyarakat dan mulai digunakan pada tanggal 17 Agustus 1950 dan disahkan penggunaannya pada 17 Oktober 1951 oleh Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Sukiman Wirjosandjojo melalui PP 66/1951, dan kemudian tata cara penggunaannya diatur melalui PP 43/1958.

Meskipun telah disahkan penggunaannya sejak tahun 1951, tidak ada nama resmi untuk lambang negara itu, sehingga muncul berbagai sebutan untuk lambang negara itu, seperti Garuda Pancasila, Burung Garuda, Lambang Garuda, Lambang Negara, atau hanya sekedar Garuda. Nama Garuda Pancasila baru disahkan secara resmi sebagai nama resmi lambang negara pada tanggal 18 Agustus 2000 oleh MPR melalui amandemen kedua UUD 1945.

Makna dan Arti Lambang

Garuda Pancasila terdiri atas tiga komponen utama, yakni Burung Garuda, perisai, dan pita putih.

Burung Garuda

Burung Garuda merupakan burung mistis yang berasal dari Mitologi Hindu yang berasal dari India dan berkembang di wilayah Indonesia sejak abad ke-6. Burung Garuda itu sendiri melambangkan kekuatan, sementara warna emas pada burung garuda itu melambangkan kemegahan atau kejayaan.

Pada burung garuda itu, jumlah bulu pada setiap sayap berjumlah 17, kemudian bulu ekor berjumlah 8, bulu pada pangkal ekor atau di bawah perisai 19, dan bulu leher berjumlah 45. Jumlah-jumlah bulu tersebut jika digabungkan menjadi 17-8-1945, merupakan tanggal di mana kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.

Perisai

Perisai yang dikalungkan melambangkan pertahanan Indonesia. Pada perisai itu mengandung lima buah simbol yang masing-masing simbol melambangkan sila-sila dari dasar negara Pancasila.

Pada bagian tengah terdapat simbol bintang bersudut lima yang melambangkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Lambang bintang dimaksudkan sebagai sebuah cahaya, seperti layaknya Tuhan yang menjadi cahaya kerohanian bagi setiap manusia. Sedangkan latar berwarna hitam melambangkan warna alam atau warna asli, yang menunjukkan bahwa Tuhan bukanlah sekedar rekaan manusia, tetapi sumber dari segalanya dan telah ada sebelum segala sesuatu di dunia ini ada.

Di bagian kanan bawah terdapat rantai yang melambangkan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Rantai tersebut terdiri atas mata rantai berbentuk segi empat dan lingkaran yang saling berkait membentuk lingkaran. Mata rantai segi empat melambangkan laki-laki, sedangkan yang lingkaran melambangkan perempuan. Mata rantai yang saling berkait pun melambangkan bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan, membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga menjadi kuat seperti sebuah rantai.

Di bagian kanan atas terdapat gambar pohon beringin yang melambangkan sila ketiga, Persatuan Indonesia. Pohon beringin digunakan karena pohon beringin merupakan pohon yang besar di mana banyak orang bisa berteduh di bawahnya, seperti halnya semua rakyat Indonesia bisa “berteduh” di bawah naungan negara Indonesia. Selain itu, pohon beringin memiliki sulur dan akar yang menjalar ke mana-mana, namun tetap berasal dari satu pohon yang sama, seperti halnya keragaman suku bangsa yang menyatu di bawah nama Indonesia.

Kemudian, di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng yang melambangkan sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang banteng digunakan karena banteng merupakan hewan sosial yang suka berkumpul, seperti halnya musyawarah di mana orang-orang harus berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu.

Dan di sebelah kiri bawah terdapat padi dan kapas yang melambangkan sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Padi dan kapas digunakan karena merupakan kebutuhan dasar setiap manusia, yakni pangan dan sandang sebagai syarat utama untuk mencapai kemakmuran yang merupakan tujuan utama bagi sila kelima ini.

Pada perisai itu terdapat garis hitam tebal yang melintang di tengah-tengah perisai. Garis itu melambangkan garis khatulistiwa yang melintang melewati wilayah Indonesia.

Warna merah dan putih yang menjadi latar pada perisai itu merupakan warna nasional Indonesia, yang juga merupakan warna pada bendera negara Indonesia. Warna merah melambangkan keberanian, sedangkan putih melambangkan kesucian.

Pita dan Semboyan Negara

Pada bagian bawah Garuda Pancasila, terdapat pita putih yang dicengkeram, yang bertuliskan “BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang ditulis dengan huruf latin, yang merupakan semboyan negara Indonesia. Perkataan bhinneka tunggal ika merupakan kata dalam Bahasa Jawa Kuno yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Perkataan itu diambil dari Kakimpoi Sutasoma karangan Mpu Tantular, seorang pujangga dari Kerajaan Majapahit pada abad ke-14. Perkataan itu menggambarkan persatuan dan kesatuan Nusa dan Bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai pulau, ras, suku, bangsa, adat, kebudayaan, bahasa, serta agama.

Semoga bisa nambah wawasan kita tentang negara tercinta kita ini …

setidak nya kalo nanti di tanya orang kita bisa jawab ….

Filed under: SEJARAH

Sejarah Purna Paskibraka Indonesia

PURNA PASKIBRAKA INDONESIA
Dari Dulu Hingga Kini

Cikal bakal berdirinya organisasi alumni Paskibraka sebenarnya dimulai secara nyata di Yogyakarta. Pada tahun 1975, sejumlah alumni (Purna) Paskibraka tingkat Nasional yang ada di Yogya, berkeinginan untuk mendirikan organisasi alumni, lalu mereka menyampaikan keinginan itu kepada para pembina di Jakarta. Para pembina lalu menawarkan sebuah nama, yakni REKA PURNA PASKIBRAKA yang berarti ikatan persahabatan para alumni Paskibraka. Tapi, di Yogya nama itu kemudian digodok lagi dan akhirnya disepakati menjadi PURNA EKA PASKIBRAKA (PEP) Yogyakarta, yang artinya wadah berhimpun dan pengabdian para alumni Paskibraka. PEP DI Yogya resmi dikukuhkan pada 28 Oktober 1976. Seiring dengan itu, para alumni Paskibraka di Jakarta kemudian meneruskan gagasan pendirian organisasi REKA PURNA PASKIBRAKA (RPP). Sementara di Bandung, berdiri pula EKA PURNA PASKIBRAKA (EPP). Namun, dalam perkembangannya, ketiga organisasi itu belum pernah melakukan koordinasi secara langsung untuk membentuk semacam forum komunikasi di tingkat pusat. Sementara itu, di daerah lain belum ada keinginan untuk membentuk organisasi, karena jumlah alumninya masih sedikit — berbeda dengan Jakarta, Bandung dan Yogya yang menjadi kota tujuan para alumni Paskibraka untuk melanjutkan sekolah. Sampai awal 80-an, alumni Paskibraka di daerah lain hanya dibina melalui Bidang Binmud Kanwil Depdikbud. Mereka selalu dipanggil sebagai perangkat dalam pelaksanaan berbagai upacara dan kegiatan. Mereka dilibatkan dalam kegiatan pembinaan generasi muda, karena dianggap potensial sesuai predikatnya.

Tahun 1980, Direktorat Pembinaan Generasi Muda (PGM) berinisiatif untuk mendayagunakan potensi alumni berbagai program yang telah dilaksanakan, termasuk program pertukaran pemuda Indonesia dengan luar negeri (saat itu baru CWY atau Indonesia-Kanada dan SSEAYP atau Kapal Pemuda ASEAN-Jepang). Organisasi itu diberi nama PURNA CARAKA MUDA INDONESIA (PCMI). Maka, selain di Jakarta, Bandung dan Yogya, seluruh Purna Paskibraka di daerah lainnya digabungkan dalam PCMI. Hal itu berlangsung sampai tahun 1985, ketika Direktorat PGM ”menyadari” bahwa penggabungan Purna Paskibraka dengan alumni pertukaran pemuda bukanlah sebuah pilihan yang tepat. Karena itu, sebagai hasil dari Lokakarya Pembinaan Purna Program Binmud di Cisarua, Bogor —yang dihadiri oleh para Kabid Binmud seluruh Indonesia serta para alumni Paskibraka dan pertukaran pemuda— dikeluarkan SK Dirjen Diklusepora No. Kep.091/ E/O/1985 tanggal 10 Juli 1985 yang memisahkan para alumni dalam dua organisasi, masing-masing PCMI untuk alumni pertukaran pemuda dan PURNA PASKIBRAKA INDONESIA (PPI) untuk alumni Paskibraka. Dengan alasan untuk menjaga agar keputusan itu tidak ”mencederai hati” para Purna Paskibraka yang telah lebih dulu mendirikan PEP, RPP dan EPP, maka ditetapkanlah bahwa PPI adalah organisasi binaan Depdikbud yang bersifat regionalprovinsial. Artinya, organisasi itu ada di tiap provinsi namun tidak mempunyai Pengurus di tingkat pusat. Itu, sebenarnya sebuah pilihan yang sulit, bahkan ”absurd”. Bagaimana sebuah organisasi bernama sama dan ada di tiap provinsi tapi tidak mempunyai forum komunikasi dan koordinasi di tingkat pusat. Ternyata, hal itu dipicu oleh kekhawatiran organisasi kepemudaan ”tunggal” asuhan pemerintah yang melihat PPI adalah sebuah ancaman. Namun, dengan kegigihan para Purna Paskibraka yang ada di Jakarta, akhirnya kebekuan itu dapat dicairkan. Empat tahun harus menunggu dan bekerja keras untuk dapat menghadirkan Pengurus PPI daerah dalam sebuah Musyawarah Nasional (Munas). Tanggal 21 Desember 1989, melalui Munas I di Cipayung, Bogor, terbentuklah secara resmi PPI Pusat, lengkap dengan perangkat Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART).

Sumber : Bulletin Paskibraka 78, Edisi Oktober 2007
Penulis : PP ‘78

Filed under: SEJARAH

Sejarah Paskibraka Indonesia

Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekamo memberi tugas kepada ajudannya,Mayor M. Husein Mutahar untuk mempersiapkan upacara peringatanDetik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta

Pada saat itu, sebuah gagasan berkelebat di benak Mutahar. Alangkah baiknya bila persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilestarikan kepada generasi muda yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat itu. Pengibaran bendera pusaka bisa menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai perjuangan. Karena itu, para pemudalah yang harus mengibarkan bendera pusaka. Dari sanalah kemudian dibentuk kelompokkelompok pengibar bendera pusaka, mulai dari lima orang pemuda – pemudi pada tahun 1946 —yang menggambarkan Pancasila.

Namun, Mutahar mengimpikan bila kelak para pengibar bendera pusaka itu adalah pemuda-pemuda utusan dari seluruh daerah di Indonesia. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti “mendapat durian runtuh” karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia. tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 didatangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka. Sayang, belum seluruhnya provinsi bisa mengirimkan utusannya, sehingga pasukan pengibar bendera pusaka tahun itu masih harus ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.

Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerek Bendera Pusaka”. Nama, pada kurun waktu itu memang belum menjadi perhatian utama, karena yang terpenting tujuan mengibarkan bendera pusaka oleh para pemuda utusan daerah sudah menjadi kenyataan. Dalam mempersiapkan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka, Husein Mutahar sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) tentu tak dapat bekerja sendiri. Sejak akhir 1967, ia mendapatkan dukungan dari Drs Idik Sulaeman yang dipindahtugaskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dari Departemen Perindustrian dan Kerajinan) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan. Idik yang terkenal memiliki karakter kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Setelah melengkapi silabus latihan dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya. Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka menganggukkan kepala. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya. Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. ”Pas” berasal dari kata pasukan, ”kib” dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka. Idik yang sarjana senirupa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itupun juga segera memainkan kelentikan tangannya dalam membuat sketsa. Hasilnya, adalah berbagai atribut yang digunakan Paskibraka, mulai dari Lambang Anggota, Lambang Korps, Kendit Kecakapan sampai Tanda Pengukuhan (Lencana Merah-Putih Garuda/MPG). Nama Paskibraka dan atribut baru itulah yang dipakai sejak tahun 1973 sampai sekarang. Sulitnya penyebutan akronim Paskibraka memang sempat mengakibatkan kesalahan ucap pada sejumlah reporter televisi saat melaporkan siaran langsung pengibaran bendera pusaka setiap tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka. Bahkan, tak jarang wartawan media cetak masih ada yang salah menuliskannya dalam berita, misalnya dengan ”Paskibrata”. Tapi, bagi para anggota Paskibraka, Purna (mantan) Paskibraka maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata Paskibraka telah menjadi sesuatu yang sakral dan penuh kebanggaan.

Memang pernah, suatu kali nama Paskibraka akan diganti, bahkan pasukannya pun akan dilikuidasi. Itu terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Republik Indonesia dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kata ”pusaka” yang ada dalam akronim Paskibraka dianggap Gus Dur mengandung makna ”klenik”. Untunglah, dengan perjuangan keras orang orang yang berperan besar dalam sejarah Paskibraka, akhirnya niat Gus Dur untuk melikuidasi Paskibraka dapat dicegah. Apalagi, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, pada pasal 4 jelas-jelas menyebutkan: (1) BENDERA PUSAKA adalah Bendera Kebangsaan yang digunakan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945. (2) BENDERA PUSAKA hanya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus. (3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal 22 tidak berlaku bagi BENDERA PUSAKA. (Pasal 22: Apabila Bendera Kebangsaan dalam keadaan sedemikian rupa, hingga tak layak untuk dikibarkan lagi, maka bendera itu harus dihancurkan dengan mengingat kedudukannya, atau dibakar). Itu berati, bila Presiden ngotot mengubah nama Paskibraka, berarti dia melanggar PP No. 40 Tahun 1958. Presiden akhirnya tidak jadi membubarkan Paskibraka, tapi meminta namanya diganti menjadi ”Pasukan Pengibar Bendera Merah-Putih” saja. Hal ini di-iyakan saja, tapi dalam siaran televisi dan pemberitaan media massa, nama pasukan tak pernah diganti. Paskibraka yang telah menjalani kurun sejarah 32 tahun tetap seperti apa adanya, sampai akhirnya Gus Dur sendiri yang dilengserkan.

Sumber : Bulletin Paskibraka 78, Edisi Juni 2007
Penulis : Syaiful Azram

Filed under: SEJARAH

Perkembangan Purna Paskibraka Jakarta Pusat Hingga Kini

Pengibaran perdana itu pun usai dengan sukses, tapi perjuangan organisasi Purna Paskibraka Jakarta Pusat, baru dimulai.  Angkatan 1993, 1992 juga para senior, terus berjuang untuk lebih memantapkan kedudukan  dan menata organisasi Purna Paskibraka Indonesia Jakarta Pusat (PPI-JP), sambil terus berlatih (khususnya angkatan 1992 dan 1993),  mengembangkan pengetahuan tentang organisasi, juga tentang kepaskibrakaan.  Pertengahan tahun 1994,  sampailah pada hari-hari sibuk bagi PPI Jakarta Pusat, karena di bulan ini diadakan kembali seleksi Capaska untuk angkatan 1994, namun atas kerjasama tim yang solid dan tanggung jawab besar untuk mengembangkan Paskibraka di wilayah Jakarta Pusat, panitia seleksi yang terdiri dari PPI angkatan 1992,1993 dan para senior, berhasil menyelenggarakan seleksi untuk tahun 1994, seperti keberhasilan besar yang diraih saat tugas perdana pengibaran duplikat sang saka, setahun yang lalu.
Bahkan,  pada tahun ini juga, Paskibraka Jakarta Pusat memiliki 7 orang perwakilan di tingkat Propinsi yang salah satunya adalah Ranni Santi, seorang anggota Paskibraka Jakarta Pusat di tingkat Propinsi DKI Jakarta yang menjadi perwakilan di Tingkat Nasional sebagai Pembawa Baki Bendera Pusaka.  Karena keberhasilan  itu pula lah, bapak Walikota menyatakan kepuasannya terhadap kinerja dan hasil tugas yang diemban oleh Paskibraka  Jakarta Pusat dan sebagai penghargaannya, pada pertengahan bulan Juni, beliau memberikan izin dan bantuan dana untuk melaksanakan Pemusatan Latihan (Training Center) bagi calon anggota Paskibraka Jakarta Pusat Tahun 1994 dengan menggunakan fasilitas di wilayah kantor Walikotamadya Jakarta Pusat .
Tidak hanya itu,  semakin tahun, PPI JP semakin menunjukkan kinerja yang memuaskan, seperti pada tahun 1995, bapak Walikotamadya Jakarta Pusat memberikan kepercayaan yang besar kepada Paskibraka Jakarta Pusat hingga kemudian beliau meminta secara resmi kepada Paskibraka Jakarta Pusat untuk bergabung dalam Panitia Kenduri Nasional dalam rangka HUT Emas Kemerdekaan RI ke 50 dan yang lebih menyenangkan juga membanggakan lagi, beliau memberikan sekretariat kepada Paskibraka Jakarta Pusat sebagai tempat berkumpul dan berkoordinasi dalam menjalankan tugas dan kegiatan organisasinya.
Telah yakin dengan kinerja organisasi yang semakin menunjukkan peningkatan yang baik dan perlunya ditindak lanjuti ke tingkat yang lebih serius, artinya ingin menyatakan diri bahwa PPI JP memang benar-benar ada sebagai organisasi kepemudaan yang eksis dan dapat menjadi wadah yang positif bagi generasi muda di lingkungan Jakarta Pusat, maka pada tahun 1998 untuk kali pertama diselenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) Purna Paskibraka Indonesia Jakarta Pusat.  Musda ini diselenggarakan guna memilih ketua dan menetapkan Anggaran Dasar,  Anggaran Rumah Tangga serta Program Kerja untuk masa bakti 1998 – 2000.  Dan dalam Musda I tersebut, terpilihlah seorang ketua  dari Paskibraka tahun 1993 yaitu Aria Wibisana.   Dengan adanya Musda I maka PPI Jakarta Pusat terbentuk secara De Jure dan sejak saat itu, kedudukan organisasi Purna Paskibraka Jakarta Pusat dinyatakan resmi dan kegiatannya terus berkembang dengan baik hingga kini.

Filed under: SEJARAH

Terbentuknya Purna Paskibraka Jakarta Pusat

foto-6Bersama kak Arif Bhineka,  Capaska 1992 yang bertahan, pelan-pelan membangun organisasi yang benar-benar dapat menjadi wadah bagi Capaska 1992 dan tentu saja berharap dapat mewadahi juga sampai generasi-paskibraka Jakarta Pusat selanjutnya.  Dimulai dengan membuat surat-surat yang diperlukan, karena saat itu kami belum memiliki sekretariat, maka jadilah rumah salah satu capaska 1992 yaitu dani, yang ada di komplek perhubungan udara, percetakan negara jakarta Pusat menjadi  ”sekretariat” atau basecamp kami.  Disanalah kami mulai mempersiapkan surat-surat, mengatur jadwal-jadwal latihan, membuat agenda-agenda kegiatan dan sebagainya, pokoknya semua hal yang diperlukan untuk pembentukan organisasi juga pengembangan latihan .   Untuk biaya yang dibutuhkan, kami berinisiatif mengumpulkan uang jajan kami sendiri.  Disamping persiapan pembentukan organisasi, kegiatan kami waktu itu adalah latihan, dan menambah pengetahuan tentang organisasi juga pengetahuan umum lainnya,  karena kami tidak ingin ”kumpul-kumpul” kami di sekretariat tidak ada gunanya.
Sampai adanya Capaska baru (tahun1993), begitulah kegiatan para capaska 1992.   Ya, angkatan 1992 memang tidak (belum) melaksanakan tugas pengibaran bendera di tahun 1992, tahun 1992 hanya terkonsentrasi untuk pembentukan organisasi saja, selain juga pengembangan bakat dan ketrampilan masing-masing personil.  Bulan April 1993, kembali diadakan seleksi paskibraka di wilayah kotamadya Jakarta Pusat untuk angkatan 1993, saat itu pihak penyeleksi Capaska 1993 (panitia seleksi) diantaranya; Kanko Jakarta Pusat, Depdikbud, Kak Arif Bhineka(1991), Kak Imam (1987), juga Kak Dedy (1989).  Setelah melewati proses seleksi yang panjang, diumumkanlah ±30 orang peserta yang lolos seleksi dan ditetapkan menjadi capaska 1993.  Setelah seleksi wilayah, para capaska 1993 memulai hari-hari latihannya dengan semangat, sampai pada seleksi Paskibraka DKI,  yang akhirnya mewakilikan 4 orang capaska 1993 yang mewakili Jakarta Pusat di tingkat Propinsi yaitu: Asido Maulindo Panjaitan, Rudi Suryono, Tri Andita Puspitasari dan Titin Kartini.scan20030
Para capaska 1993 yang tidak lolos seleksi DKI pun, kembali melanjutkan latihannya di wilayah, bersama- sama capaska 1992 (masih disebut Capaska, karena memang waktu itu belum ada pengukuhan untuk angkatan 1992), mereka berlatih dibawah bimbingan kak Arif Bhineka, kak Imam, juga fihak-fihak lain di luar Paskibraka, yang peduli, dan dengan tulus membantu pelatihan dan perkembangan para Capaska juga Paskibraka.  Capaska1992 dan Capaska 1993 dibina, dilatih dan benar-benar dipersiapkan untuk pengibaran perdana bagi  PASKIBRAKA Jakarta Pusat di tingkat kotamadya Jakarta Pusat.  Biarpun saat itu masih banyak keterbatasan fasilitas, kami tetap berlatih dengan sungguh-sungguh, mengambil tempat area (halaman, top roof, maupun ruang kelas) SMA Negeri 68 Jakarta Pusat, kami menjalani latihan dengan penuh tanggung jawab dan tekad yang kuat untuk dapat memberikan yang terbaik bagi Paskibraka Jakarta Pusat.
Dalam pelatihan, selain tentu saja latihan baris-berbaris, banyak lagi pelajaran yang diterima, pendidikan yang diajarkan, juga pengalaman yang dirasakan, seperti diantaranya latihan menari (kesenian) yang waktu itu diberikan oleh (Alm) Nuryadi Wisnuwardana yang biasa kami panggil kak Nur, walaupun beliau bukan dari lingkungan Paskibraka (lulusan IKJ) namun sangat berkontribusi positif  terhadap seluruh kegiatan pembentukan organisasi dan merupakan figur yang turut “mewarnai” PPI Jakarta Pusat, khususnya dalam hal kesenian.
Seiringan dengan pelatihan pengibaran dibentuk panitia kecil yang terdiri dari Arif Bhinneka (1991) , beberapa angkatan 1992 (antara lain: Arif Umar, Dany KP, Nur Machfud, Yusuf T, Budianto W, Doni Petra, Gunawan) dan dikoordinir oleh Iman Santosa (1987).  Panitia ini bertugas untuk membentuk PASKIRAKA Jakarta Pusat. Dan pada tanggal 5 Agustus panitia kecil tersebut diterima oleh Walikotamadya Jakarta Pusat Bapak Abdul Kahfi dalam forum audiensi. Dalam audiensi tersebut, panitia menjelaskan tentang PASKIBRAKA dan hasilnya Bapak Walikota menyambut baik kehadiran PASKIBRAKA Jakarta Pusat dan memberikan kesempatan untuk menjalakan tugas perdananya serta bersedia mengukuhkan anggota PASKIBRAKA JAKARTA PUSAT tahun 1992 & 1993.
Tanggal 13 Agustus 1993 di kantor walikotamadya Jakarta Pusat,  + 36 orang Capaska 1992 dan 1993 akhirnya dikukuhkan, oleh Walikota Jakarta Pusat yang saat itu diwakilkan oleh Sekretaris Kotamadya Jakarta Pusat Bapak Soegiyanto, pengukuhan tersebut menjadi pengukuhan pertama anggota Paskibraka Jakarta Pusat.  Dan pada tanggal 17 Agustus 1993 merupakan tugas perdana pengibaran duplikat bendera pusaka di kantor walikotamadya Jakarta Pusat dan pada hari yang sama pula terbentuk organisasi PURNA PASKIBRAKA INDONESIA Jakarta Pusat (PPI JP) secara De Facto. Dengan begitu, ditetapkanlah tanggal 5 Agustus 1993 sebagai Hari Lahirnya PASKIBRAKA Jakarta Pusat

Filed under: SEJARAH,

Cikal bakal Purna Paskibraka Indonesia Kotamadya Jakarta Pusat

latihan-92-sma-30-2Tahun 1992, dimana keempat wilayah kotamadya lain di DKI Jakarta telah memiliki Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dinaungi oleh organisasi Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kotamadya, baru untuk pertama kalinya Kotamadya Jakarta Pusat mengadakan seleksi pemilihan Calon Paskibraka (Capaska), agak terlambat memang, namun “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” mungkin prinsip itulah yang mengilhami para pendahulu kami waktu itu. Ya, memang benar, untuk kegiatan yang baik, memang hendaknya kita segera memulainya, walaupun terlambat daripada tidak melakukan apapun dan akhirnya menyesal.  Hal ini terbukti pada awal pembentukan Paskibraka dan merintis organisasi PPI di wilayah Kotamadya Jakarta Pusat.
Setelah terpilih melalui seleksi yang dilakukan di Sport Club Arsisi Rawamangun dan diumumkan di Kantor Kota Depdikbud Jakarta Pusat (sekarang SUDIN DIKMENTI Jakarta Pusat di Salemba ).  Mereka, para pelajar Jakarta Pusat yang telah lolos seleksi Capaska Jakarta Pusat tahun 1992, berbekal tekad yang kuat, memulai latihannya untuk dapat mengibarkan duplikat sang saka di wilayah Kotamadya Jakarta Pusat.  Hari demi hari latihan jalani dengan senang hati, dan sampailah akhirnya pada seleksi Capaska untuk Provinsi DKI Jakarta.  Ini adalah seleksi DKI yang pertama kali diikuti oleh Jakarta Pusat,  pada seleksi itu, dikirimlah para calon dari Jakarta Pusat yang telah dilatih dan dipersiapkan, setelah melewati tahapan seleksi, saat pengumuman pun tiba, muncullah 4 nama calon dari Jakarta Pusat yang dinyatakan lolos dan dapat mewakili wilayah Jakarta Pusat di tingkat provinsi, mereka adalah Budi Anto Wibowo, Doni Petra , Yusuf  Tripradityo dan Hario.  Lolosnya 4 wakil itu adalah sebuah pencapaian besar untuk Jakarta Pusat yang terbilang baru memiliki Capaska untuk wilayahnya, bahkan organisasi yang dapat menaungi para Capaska itu pun belum terbentuk.
Setelah seleksi DKI usai, para Capaska yang tersisa, kembali menjalani latihan di wilayah.  Namun semakin hari, latihan semakin sepi, karena para Capaska Jakarta Pusat mulai ”berguguran” satu persatu.  Mungkin hanya yang berkemauan kuat dan yang benar-benar ”nekad” sajalah yang masih bertahan, hal ini sangat wajar karena organisasi yang dapat menjadi wadah bagi mereka saja belum ada, apalagi pengurus, waktu itu sama sekali belum terpikir untuk ada pengurus di wilayah Jakarta Pusat.  Jadilah kami seperti hanya menggerakkan sebuah organisasi yang tak berbentuk atau yang akhirnya kami sebut dengan ”Organisasi Tanpa Bentuk” atau OTB.
Beruntung waktu itu para Capaska mengenal kak Arif Bhineka, mantan Paskibraka DKI Jakarta Tahun 1991 yang dengan setia selalu membina, membimbing dan memberi arahan pada Capaska Jakarta Pusat Tahun 1992.  Dengan semangat yang tinggi dan tentu saja kecintaannya pada Paskibraka, beliau mengkoordinir kami, para Capaska yang bertahan untuk mengembangkan ”OTB” menjadi organisasi yang berbentuk, yang benar-benar dapat mewadahi Paskibraka Jakarta Pusat seperti apa yang telah ada di 4 wilayah lain di DKI Jakarta.

Filed under: SEJARAH,

Tentang PPI JP

teratai-copyPada tahun 1992,
Para hasil seleksi calon Paskibraka (Capaska) tahun 1992 tingkat Kotamadya dikooridinir dan dibina oleh salah seorang mantan Paskibraka DKI Jakarta tahun1991, Arif Bhinneka yang berkoodinasi dengan utusan PPI DKI Jakarta untuk membantu proses pembentukan yaitu Iman Santosa (Paskibraka 1987). Ditahun ini belum dapat bertugas di kantor Walikotamadya Jakarta Pusat dikarenakan masih dalam tahap persiapan pembentukan personil.

Pada tahun 1993,
Para hasil seleksi capaska tingkat kotamadya tahun ini pada bulan April juga di koordinir dan dimulainya pembinaan dan pelatihan yang dipersiapkan untuk pengibaran perdana PASKIBRAKA Jakarta Pusat di tingkat kotamadya Jakarta Pusat. Dalam pelatihan tersebut diikuti oleh angkatan 1992 dan 1993. Selain itu, pada tahun ini juga terdapat 4 (empat) orang capaska 1993 yang mewakili Jakarta Pusat di tingkat Propinsi yaitu: Asido Maulindo Panjaitan, Rudi Suryono, Tri Andita Puspitasari dan Titin Kartini. Seiringan dengan pelatihan pengibaran dibentuk panitia kecil yang terdiri dari Arif Bhinneka (1991), beberapa angkatan 1992 (antara lain: Arif Umar, Dany KP, Nur Machfud, Yusuf T, Budianto W, Doni Petra, Gunawan) dan dikoordinir oleh Iman Santosa. Panitia ini bertugas untuk membentuk PASKIRAKA Jakarta Pusat. Dan pada tanggal 5 Agustus panitia kecil tersebut diterima oleh Walikotamadya Jakarta Pusat Bapak Abdul Kahfi dalam forum audiensi. Dalam audiensi tersebut, panitia menjelaskan tentang PASKIBRAKA dan hasilnya Bapak Walikota menyambut baik kehadiran PASKIBRAKA Jakarta Pusat dan memberikan kesempatan untuk menjalakan tugas perdananya serta bersedia mengukuhkan anggota PASKIBRAKA JAKARTA PUSAT tahun 1992 & 1993 (+ 36 orang) untuk kali pertama yang diwakilkan oleh Sekretaris Kotamadya Jakarta Pusat Bapak Soegiyanto pada tanggal 13 Agustus 1993 di kantor walikotamadya Jakarta Pusat.

Purna Paskibraka Jakarta Pusat tahun 1993Latihan Di SMA 68 JKT
Pada tanggal 17 Agustus 1993 tugas perdana pengibaran duplikat bendera pusaka di kantor walikotamadya Jakarta Pusat dilaksanakan dengan baik dan pada hari yang sama pula terbentuk organisasi PURNA PASKIBRAKA INDONESIA Jakarta Pusat (PPI JP) secara De Facto. Pada akhirnya tanggal 5 agustus 1993 ditetapkan sebagai Hari Lahirnya PASKIBRAKA Jakarta Pusat

Pada tahun 1994,
Selama satu tahun bertugas, bapak Walikota menyatakan kepuasannya terhadap kinerja dan hasil tugas yang diemban oleh PASKIBRAKA Jakarta Pusat dan sebagai penghargaannya, beliau memberikan izin dan bantuan dana untuk melaksanakan Pemusatan Latihan (Training Center) bagi calon anggota PASKIBRAKA Jakarta Pusat Tahun 1994 dengan menggunakan fasilitas di lingkungan kantor Walikotamadya Jakarta Pusat pada pertengahan bulan Juni. Pada tahun ini juga, Paskibraka Jakarta Pusat memiliki 7 orang perwakilan di tingkat Propinsi yang salah satunya Ranni Santi,salah seorang anggota PASKIBRAKA Jakarta Pusat di tingkat Propinsi DKI Jakarta menjadi perwakilan di Tingkat Nasional sebagai Pembawa Baki Bendera Pusaka.

Pada tahun 1995,
Lagi, bapak Walikotamadya Jakarta Pusat menyatakan kepuasannya terhadap kinerja dan hasil tugas yang diemban oleh PASKIBRAKA Jakarta Pusat dan kemudian beliau meminta secara resmi kepada PASKIBRAKA Jakarta Pusat untuk bergabung dalam Panitia Kenduri Nasional dalam rangka HUT Emas Kemerdekaan RI ke 50 serta memberikan sekretariat kepada PASKIBRAKA Jakarta Pusat sebagai tempat berkumpul dan berkoordinasi dalam menjalankan tugasnya.

Pada tahun 1998,
Untuk kali pertama diselenggarakan Musyawarah Daerah (Musda) Purna Paskibraka Indonesia Jakarta Pusat untuk memilih ketua dan menetapkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta Program Kerja selama untuk masa bakti 1998 – 2000. Dan sebagai ketuanya adalah: Aria Wibisana,Paskibraka tahun 1993. Dengan adanya Musda I maka PPI Jakarta Pusat terbentuk secara De Jure.

Filed under: SEJARAH

Nge-tweet teman-teman PPI JP

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Ucapan Terimakasih

Walikota Administrasi Jakarta Pusat | Para Founder PPI JP | Pengurus dan MPO PPI JP | Seluruh anggota PPI JP | para netter dimanapun berada ..

Admin Blog PPI JP

"... Semoga Blog ini memberikan manfaat dan informasi yang positif tentang Paskibraka, khususnya Purna Paskibraka Indonesia Kota Administrasi Jakarta Pusat. Dengan mencintai Organisasi ini adalah salah satu bentuk Jiwa Patrotisme dan Nasionalisme terhadap Bangsa dan Negara".
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.